Friday, October 16, 2009

Cakalele Bulu Ayang




Cakalele sebagai tarian negeri adat di Maluku cukup bervariasi. Jenis yang pertama adalah ‘Cakalele Perang’, yakni cakalele sebagai simbol perjuangan masing-masing negeri menghadapi lawannya.

Cakalele perang ini adalah cakalele yang muncul di masa awal yakni pada masa ketika masing-masing klen/suku atau negeri masih mencari lokasi negeri/teritori untuk membangun permukiman mereka. Biasanya di masa ketika leluhur masih berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Ini sangat terkait dengan sejarah perpindahan para leluhur sampai menetap di suatu lokasi yang tetap.

Karena itu cakalele jenis ini adalah ritus awal untuk pergi berperang dan ritus kemenangan setelah pulang dari perang. Di Seram, cakalele kemenangan ini biasanya juga dikenal dalam nama atau jenis lain yaitu ‘maru-maru’/’maku-maku’.

Jenis yang kedua, yang berkembang di waktu kemudian, pada saat telah terjadi kontak sosial suatu negeri dengan negeri lainnya, adalah ‘Cakalele Bulu Ayang’ (ayam). Cakalele ini adalah cakalele penyambutan, sebagai simbol kesediaan suatu negeri adat menyambut orang dari negeri lain yang datang ke negeri mereka. Karena itu dalam banyak hal cakalele ini lebih bermakna persahabatan.

Cakalele di Negeri Rutong adalah ‘Cakalele Bulu Ayang’. Cakalele ini pertama kali digelar pada saat datang moyang Kakerissa, Corputty dan Atapary dari Negeri Rumahkay – Amakele Lorimalahitu di Pulau Seram. Peristiwa yang mendasari hubungan Gandong Rumahkay-Rutong.
Setelah Moyang Lessy bermusyawarah dengan Moyang Kakerissa, Corputty dan Atapary di ‘hatola rutui’ (tempat musyawarah) yakni di pesisir pantai Rutung, barulah mereka diantar ke wanung/baileu negeri dengan disambut Cakalele oleh masyarakat Negeri Rutong. Kala itu masyarakat Rutong sudah menempati Negeri yang kedua di Amabuasa.

Pada saat sebelum cakalele, ada kapata yang dinyanyikan oleh Moyang Makatita Lisa, sebagai Mauweng Negeri Rutong.

Syairnya:

Oh…manu kiris eee….manu maenggole
Gegerege raga bumi nanau lopurisa ooo
Gegerege raga bumi nanau lopurisa ooo
Meski oooo manu kiris eee
Gegerege raga bumi nanau lopurisa ooo
Gegerege raga bumi nanau lopurisa ooo

Artinya:
[oo lihat itu burung…..itu burung maenggole
[Dan] lihat anak negeri menari melihat parang perang itu
[Dan] lihat anak negeri menari melihat parang perang itu
Lihat burung itu
[Dan] lihat anak negeri menari melihat parang perang itu
[Dan] lihat anak negeri menari melihat parang perang itu




Ritus Cakalele

Di kemudian hari, Cakalele Negeri Rutong itu mulai disusun menjadi satu tarian yang tersistem mengikuti struktur pemerintahan adat Rutong.

Kapitangnya dipercayakan kepada Maspaitella, yang dalam struktur adat menempati posisi Kapitang Besar.

Malessy adalah marga Talahatu, yang dalam struktur adat menempati posisi sebagai Penjaga Pintu Kerajaan.

Pasukan Cakalele disebut dengan nama “arumate’ yang terdiri dari 16 orang.
Sebelum acara Cakalele dipentaskan biasanya ada ritus persiapan pada malam sebelumnya. Pasukan cakalele biasanya keluar dari Rumah Kapitang Besar, dan diantar oleh Mauweng menuju Wai Lilinita (Air Bak/Air Parampuang) untuk dimandikan. Setiba di Wai Lilinita, Kapitan yang pertama-tama turun mandi sambil mengambil air untuk dimasukkan ke dalam botol. Air itu selanjutnya disebut Air Kapitang. Air itu akan digunakan sebagai ‘tolak bala’ jika ada orang lain yang mengirimkan ilmu hitam kepada pasukan cakalele. Setelah kapitan naik dari dalam air, baru pasukan cakalele lainnya turun dan mandi. Setelah itu mereka dilarang untuk melakukan pekerjaan apa pun sampai selesai Cakalele.

Namun jika pasukan Cakalele akan ‘bermain’ [atraksi tarian] di luar Negeri, misalnya di Kota Ambon untuk acara tertentu, ritusnya akan lebih lengkap.

Pada malam sebelum keberangkatan, pasukan Cakalele berkumpul di Rumah Kapitang Besar. Mauweng akan mengantar mereka menuju Wai Lilinita untuk dimandikan. Setelah dimandikan, semua pasukan cakalele harus berpakaian lengkap.

Keesokan paginya, mereka harus menuju Baileu Negeri dan memakan tanah yang ada di tiang baileu. Kemudian sambil berjalan kaki dalam formasi Cakalele, menuju Kaki Negeri, dan melakukan Cakalele penghormatan kepada Kapitang Besar Latu Sibenehung (Moyang Makatita yang dahulu merupakan Kapitang Besar), kemudian menuju Negeri Lama, dan melakukan Cakalele Penghormatan di Baileu Negeri Lama.

Di situ, sebelum Cakalele Penghormatan, diadakan doa adat oleh Mauweng Negeri (Makatita Lisa). Di Baileu Negeri Lama itu terdapat tiga buah batu: Batu Kapitang, Batu Malessy dan Batu Mauweng. Masing-masing Pejabat itu akan berdiri di masing-masing batunya, dan mendengar petuah dari Mauweng. Baru pasukan berjalan kaki menuju Batu Pintu di bekas Negeri pertama, Nuru Aman Mena Muri, dan melakukan Cakalele penghormatan di sana. Baru kemudian berjalan ‘keluar’ dari petuanan Rutong menuju Kota Ambon. Ada lagi satu lokasi di Petuanan Soya di mana semua ‘kapaseti’ harus dilepaskan sebagai tanda penghormatan kepada Raja dan masyarakat Negeri Soya.

Kemudian pasukan cakalele berjalan turun ke Gang Singa. Di depan Gang Singa juga dilakukan cakalele di situ, kemudian ke Wai Tomu [Rumah Paays] juga dilakukan Cakalele Penghormatan. Baru pasukan Cakalele Negeri Rutong menuju tempat ‘atraksi’ yang dimaksud [sesuai undangan].

Perlengkapan

Perlengkapan Cakalele:
- Pakaian (baju dan celana)
- Tifa 4 buah
- Gong 1 buah
- Parang 16 buah
- Salawaku 16 buah
- Kapaseti (topi Arumate/pasukan cakalele) 16 buah
- Lestayer (2 buah untuk Kapitang dan Malessy)
- Tombak 2 buah dan Salawaku (untuk Kapitang dan Malessy)


No comments:

Post a Comment